file dakwah

TAUBAT

Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa, kesalahan atau kekhilafan atau melakukan perbuatan kemaksiatan kepada-NYA      Karena kesalahan dan kekhilafan merupakan sifat dasar manusia, dan itulah yang diwariskan oleh Nabi Adam alaihimus shalatu wassalam kepada keturunannya sejak diturunkannya Nabi adam alaihimus shalatu wassalam dari surga.

Dan taubat merupakan refleksi permintaan maaf ( memohon ampunan ) kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

atas semua perbuatan dosa, kesalahan atau kekhilafan yang pernah kita lakukan, baik kecil atau besar, baik nyata maupun disembunyikan bahkan yang terlintas dalam hati sekalipun.

Adapun taubat bukan hanya kita lakukan apabila kita melakukan dosa besar saja, melainkan juga apabila kita melakukan dosa2 kecil, atau apabila kita tidak melaksanakan semua Perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ( dengan kata lain kita belum melaksanakan Syariat islam secara khaffah ( keseluruhannya )) atau kita melanggar perintah -NYA, maka kita pun perlu bertaubat …

Adapun perintah bertaubat mutlak bagi setiap muslim / muslimah … sebagai langkah awal menuju jalan yang diridhai –NYA, karena perintah taubat juga diberikan kepada sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mereka berhijrah ke madinah, dalam alqur’an.

“….. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

QS. An-Nur (24:31)

HAKIKAT TAUBAT

Taubat berarti kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Konsekuensinya kita harus meninggalkan hal-hal yang dilarang dan melaksanakan semua Perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jadi  kalau kita bertaubat hanya dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang sementara itu ia tidak melaksanakan semua Perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka taubatnya tidak akan diterima sebab syarat diterimanya taubat adalah dengan mengerjakan semua ketaatan kepada-NYA.

Allah berfirman :

“ Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman  dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan  mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. QS. Al-Furqan (25 : 70)

MENGAPA KITA HARUS BERTAUBAT ???

Dengan Taubat berarti kita,

1. Kembali ke jalan yang lurus.

Allah berfirman :

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi ( beribadah ) kepada –KU.

QS. Adz-Ddzariyat (51 : 56)

Manuasia diciptakan bukan untuk  bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan pula untuk main-main bukan pula untuk mengikuti hawa nafsunya semata … akan tetapi manusia diciptakan hanya untuk Mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka dari itu renungkanlah asal kejadian anda dan apa tujuan penciptaan anda di dunia ini ..

2. Taat dan patuh kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Allah berfirman :

“Hai, orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu’min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”QS. At-Tahrim (66:8)

Kita bertaubat karena taat kepada Perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perintah Tuhan pencipta alam semesta, yang menciptakan diri kita, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, maka kita bertaubat sebagai penghambaan diri kita kepada-NYA.

3.  Lari dari kezaliman menuju keberuntungan

Allah berfirman :

“ ….. dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. QS. Al-Hujurat (49 : 11)

ketahuilah bahwa kezaliman yang sebenarnya  terletak pada keberpalingan anda dari taubat.

Anda  menzalimi diri sendiri ketika anda menjerumuskan diri anda sendiri ke jurang kemaksiatan, memperturutkan hawa nafsu dan melanggar Larangan-NYA.

“ ….. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

QS. An-Nur (24:31)

Ayat ini merupakan ayat Madaniyah ( diturunkan di madinah setelah hijrah ). Dengan ayat ini Allah memberi perintah kepada orang-orang yang beriman agar mereka bertaubat Kepada-NYA setelah mereka beriman, setelah mereka bersabar, agar mereka mendapat keberuntungan ( dunia dan akhirat )

4. Mencari kebahagiaan

Kebanyakan manusia yang berbuat kemaksiatan hidup sesungguhnya berada dalam  kebahagiaan semu yang bersifat sementara, bahkan sebenarnya itu bukanlah kebahagiaan. Sebab kelezatan dan kegembiraan dengan kemaksiatan tidaklah akan  berlangsung lama, bahkan akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, di suatu waktu waktu ia menikmatinya, dilain waktu ia akan tersiksa karenanya.

Hal ini  lebih dikarenakan hatinya telah menjadi rusak ( keras / kelam ). Dan  orang ini memerlukan perbaikan hati.

Keadaan orang melakukan kemaksiatan diumpamakan seperti orang yang berada di tempat penyamakan kulit. Dia tidak akan merasakan bau busuknya kulit kecuali setelah dia keluar dari tempat itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala gembira apabila anda bertaubat, lalu DIA akan memberi ganjaran-NYA dengn membuat anda gembira dan bahagia (termasuk kebahagiaan di akhirat kelak)

Kegembiraan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hambanya yang  mukmin yang bertaubatan nassuhaa melebihi kegembiraan seorang laki-laki yang kehilangan binatang tunggangan beserta bekalnya di padang pasir,

Kemudian tertidur dan setelah terbangun ternyata semuanya telah ada kembali lagi di sampingnya.

Oleh karena itu anda akan temukan bahwa orang yang bertaubat           ( taubatan nashuhaa ) akan sangat gembira, tenang dan bahagia.

Dan sesungguhnya orang yang benar2 bahagia adalah orang yang hanya menggantungkan hatinya hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya patuh / bersandar kepada – NYA.

5. Lari dari siksa dan kerisauan dan menghancurkan dinding

(hijab) antara hamba dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Rasullullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan mengenai seruan Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Maka segeralah kembali kepada ( mentaati) Allah,  Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” QS. Adz-Dzariat  (51:50)

Sesungguhnya bila kita bertaubat berarti kita kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita lari dari kemaksiatan, kita lari godaan syaitan, kita lari dari hawa nafsu yang selalu mengajak kita dari kejahatan dan dosa, dan kita lari ancaman siksa-NYA, menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala TUHAN pencipta alam semesta, pencipta diri kita, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan yang Maha Pengampun.

Dengan bertaubat berarti kita juga menghancurkan hijab (pemisah) antara kita sebagai Hamba-NYA, dengan Pemilik dan Pencipta diri kita yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Maka dari itu marilah kita bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya ( taubatan nashuhaa ) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Mulai saat ini, detik ini, sebelum ajal datang menjemput kita. Buanglah kemalasan dari diri kita, dan kuatkanlah tekad,  dan mintalah Pertolongan dan Perlindungan hanya pada – NYA.

Dan Untuk mencapai taubatan nashuhaa diperlukan pengetahuan akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sifat-sifat –NYA dan Dzat –NYA, agar kita tahu bagaimana posisi kita sebagai hamba terhadap TUHAN nya, ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai konsekuensi  dari hubungan itu, yang lebih dalam maknanya dari hanya sekedar “ Permintaan Maaf “ semata.

Ya Allah, tobatkanlah kami dengan taubatan nashuhaa, terimalah taubatan nashuhaa kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan kami, Tutupi aib-aib kami dari semua Mahluk-MU di hari kiamat dimana hanya ENGKAU -lah satu-satunya penguasa pada hari dimana ENGKAU hisab kami, atas semua yang telah kami lakukan di dunia ini.  Dan gantilah kejahatan dan kesalahan kami dengan akhlak terpuji seperti yang telah dicontohkan oleh Kekasih-MU dan Rasul-Mu yang mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semoga shalawat dan kesejahteraan atas mu dan keluargamu ya rasullullah . aamiiin

Diambil dari berbagai sumber, terutama buku : Kaifa Atubu, edisi Indonesia : tuntunan bertaubat, karya : Muhammad Hussein Ya’kub

Wallahu a’lam bish-shawab.

PERMULAAN TAUBAT

Sesungguhnya langkah awal bertaubat adalah bertekad kuat  mengintropeksi diri dan memperbaikinya.

Adapun Langkah yang harus ditempuh sbb,

1. Menyesal dan menganggap kotor dosa

Jika Anda benar-benar menyesal atas semua kesalahan yang pernah anda buat, akan membuat hati anda lembut, dan Allah akan menolong dan menyelamatkan anda dari apa yang akan terjadi dimasa  yang akan datang. Dan Allah akan menolong anda untuk konsisten dalam ketaatan kepada-NYA.

Belajarlah jujur kepada diri anda dan kepada Allah SWT, jujurlah dalam penyesalan dengan menganggap kotor kemaksiatan yang pernah kita lakukan, menangislah dalam penyesalan.

Mohon Ampunlah kepada Allah SWT atas kesalahan perbuatan kita dimasa lalu.

2. Nasehat dan peringatan terhadap diri sendiri.

Sudah menjadi sifat manusia yang cenderung kepada kesenangan (hawa nafsu), dan kemudahan, maka apabila anda menginginkan mengalahkan hawa nafsu, yaitu :

Mulailah dengan menasehati diri anda sendiri akan berbagai hal yang dapat lebih mendekatkan diri kepada-NYA.

Mulailah mencelanya disebabkan kemaksiatan yang telah diperbuatnya agar dia tunduk dan takut kepada Allah SWT.

Ingatkanlah selalu pada diri anda bahwa ia pasti akan MATI, dan pasti akan kembali kepada Tuhan-NYA yaitu Allah SWT.

Katakanlah padanya = Wahai diri, apa pendapatmu bila sekarang kita mati, dengan bekal apa kita akan menemui Allah SWT ?

Katakanlah padanya = Wahai diri, taubatlah engkau sebelum mati, sebab kematian itu datangnya tiba-tiba. Tak ada yang dapat menolaknya, mengundurkannya atau mendahulukannya.

Karena setiap mahluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati, entah hari ini, esok atau lusa, tak ada yang tahu kapan ia akan mati, tapi kematian itu PASTI akan TERJADI.

Ingatkanlah tentang sahabat, teman, saudara bahkan orang tua yang telah pergi mendahului kita.

Ingatlah bahwa Rasulullah SAW juga telah wafat mendahului kita, padahal beliau adalah Rasul kesayangan-NYA.

Katakanlah padanya = Wahai diri, ingatlah bahwa engkau akan melihat amal-amalmu ditunjukkan pada hari kiamat.

Allah berfirman :

“ Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” QS. Ali Imron (3 : 30)

“ Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”.

QS. An- Naba’ (78 : 40)

“ Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. QS. Al- Kahfi (18 : 49)

Wahai diri, Sabarlah sebentar di kehidupan dunia ini.mengapa engkau tidak sibuk mengerjakan kebaikan dan perbaikan ? apa alasanmu menunda-nunda, janganlah engkau mengatakan sebentar lagi…, kemudian sebentar lagi………. sampai akhirnya tak ada waktu yang tersisa ketika ajal datang dan jasad telah berbaring di liang kubur. Apakah engkau tahu bahwa kematianmu adalah Haqq (benar), kuburanmu adalah rumahmu, tanah adalah ranjangmu, dan cacing-cacing adalah teman tidur panjangmu, sebaik-baiknya bekal adalah amalmu. Maka Lawanlah hawa nafsumu. Karena hawa nafsu senantiasa mengajak kepada kemaksiatan, kejahatan dan kekejian dan memperturutkan hawa nafsumu akan mengakibatkan kemurkaan Tuhan – mu. Segeralah bertaubat, saudaraku..

3. Merubah pergaulan

Sesungguhnya faktor penting dalam bertaubat adalah meninggalkan teman anda yang jahat dan menggantinya dengan teman yang baik dan shaleh.

Rasullullah SAW bersabda:

“Agama seseorang berdasarkan agama temannya. Maka hendaklah salah seorang kamu memperhatikan dengan siapa dia berteman.”

“Adapun teman yang yang jahat adalah seperti seorang pandai besi. Adakalanya dia membakar pakaianmu dan adakalanya kamu mendapatkan bau yang busuk darinya”

anda harus sadar akan hal ini, karena teman yang jahat akan senantiasa mengajak pada kejahatan pula paling tidak anda akan dicap sama seperti teman anda.

Dan syaitan akan sangat menganjurkan, mendorong, dan menggiring kepada orang telah berbuat keji kepada kekejian yang lain dan akan memudahkan jalan-jalannya untuk mereka.

Allah berfirman :

“ Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasut mereka berbuat ma’siat dengan sungguh-sungguh?.”

QS. Ali Imron (19 : 83)

Marilah kita berlindung kepada Allah SWT yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Melindungi dari godaan syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya Syaitan tidak akan membiarkan anda bertaubat melainkan senantiasa mencari jalan untuk menyesatkan Anda dari jalan dan petunjuk-NYA.

Dan Apabila anda melihat orang-orang yang bermaksiat, ingatlah firman Allah :

“ ….. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. An-Nisaa (4 : 94)

dan bersyukurlah, dengan mengucapkan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan saya dari yang Dia cobakan kepada kebanyakan hamba-hamba-NYA.

4. Menyibukkan diri dengan amal kebajikan

Buatlah diri anda bekerja, dan terus bekerja melakukan amalan -amalan ibadah kepada-NYA, sibukkanlah diri anda, buatlah dia lelah dengan ketaatan Kepada Allah SWT, sehingga dia tidak memiliki keinginan dan kekuatan untuk bermaksiat kepada-NYA, buatlah agar hatimu tunduk hanya kepada-NYA.

Kerjakanlah shalat malam (tahajud) disaat orang lain sedang tertidur nyenyak, bermunajat (berdo’a) lah Kepada – NYA, sebab shalat & doa adalah sarana komunikasi seorang Hamba dengan Tuhan-NYA.

Berpuasalah dan bacalah Al-qur’an dengan rutin, tartilkanlah bacaannya, pahami, hayati dan renungkanlah arti dan maknanya, jadikanlah Al-qur’an sebagai pedoman langkah hidupmu.

Dan Pergaulilah dan rawatlah orang tua mu dengan hormat dan kasih sayang. Dan amalan lainnya.

Sebenarnya maksud yang ingin dicapai bukan kelelahan semata, tapi penghinaan diri dan tunduk dihadapan Allah SWT, Tuhan pencipta seluruh alam semesta termasuk pencipta diri kita ini.

Jika dia telah tunduk kepada semua Perintah Allah SWT, dan ketagihan dalam ketaatan dan mencintai -NYA, maka

akan dengan mudah dia meninggalkan dosa-dosa.

5. Ajaklah diri anda berpikir tentang akhirat

Berpikirlah dan renungkanlah ayat-ayat Al-qur’an tentang Akhirat, kiamat, surga dan neraka, siksa dan pahala, hisab dll.

QS As-Sajadah (32:17)

Tak seorangpun mengetahui berbagai ni’mat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.

QS As-Sajadah (32:18)

Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.

QS As-Sajadah (32:19)

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah (surga) tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan.

QS As-Sajadah (32:20)

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.”

QS As-Sajadah (32:21)

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

QS As-Sajadah (32:22)

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.

QS Al-Kahfi (18:103)

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

QS Al-Kahfi (18:104)

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

QS Al-Kahfi (18:105)

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia [896], maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

QS Al-Kahfi (18:106)

Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

QS Al-Kahfi (18:107)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

QS Al-Kahfi (18:108)

mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.

QS Al-Baqarah (2:165)

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Sudah jelas bagi kita, mana jalan yang Haqq (benar) dan jalan yang bathil, tinggal kita memilih mana  yang terbaik untuk kita.

Apabila anda mengharapkan jalan ke surga, maka mohonlah pertolongan, petunjuk, rahmat dan Ridha-NYA , karena hanya DIA –lah satu-satunya yang dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang DIA kehendaki, dan Allah SWT adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

6. Hancurkan berhala-berhala

Hawa nafsu, ambisi, keinginan, rakus akan dunia adalah contoh berhala-berhala yang disembah selain Allah SWT.

Dan segala sesuatu yang  menyebabkan kita lalai dari menyembah Allah SWT disebut berhala-berhala.

QS Al-Furqan (25:43)

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,

QS Al-Araaf (7:3)

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya . Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).

QS Al-Araaf (7:28)

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji , mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

QS Al-Araaf (7:29)

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (kata-kanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

QS Al-Araaf (7:30)

Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

anda bertaubat namun disertai masih bercokolnya keberadaan berhala-berhala di dalam hati maka taubat anda tercemar, karena berhala-berhala tersebut akan senantiasa kembali menggoda, membujuk dan merayu menuju sesembahan yang lama, dan akan senantiasa mengikutimu setiap waktu.

Maka jika anda ingin taubatan nashuhaa, maka HARUS MENGHANCURKAN (dengan sehancur-hancurnya) semua hal yang mengaitkannya anda ke masa lalu anda yang penuh dosa. Termasuk menghindari tempat-tempat maksiatnya.

Kita sering mendengar ada sebagian orang yang kembali kepada kemaksiatan setelah bertaubat, karena mereka membiarkan segala hal yang mengaitkan mereka dengan kemaksiatan tidak dihancurkan.

5. Bersabar dan bertawakallah

Sesungguhnya Taubat itu berat,

Apalagi untuk konsisten dalam ketaatan kepada-NYA dan tidak mengulangi kemaksiatan yang pernah kita lakukan.

Namun YAKIN lah bahwa Allah SWT pasti akan menolong anda, asalkan anda bersungguh-sungguh untuk melaksanakannya.

Dalam bertaubat, Jangan menyandarkan pada kekuatan diri sendiri, namun Mintalah pertolongan dan perlindungan Kepada Allah SWT yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, karena sesungguhnya syaitan senantiasa mengintai kita setiap saat untuk menjerumuskan kita kembali ke dalam kemaksiatan, dengan menggunakan segala cara dan upaya.

Mintalah Kepada Allah SWT agar kita dilindungi dari godaan syaitan yang terkutuk dan Mintalah pertolongan kepada Allah SWT agar kita Istiqamah (continue) dalam melaksanakan ketaatan kepada-NYA.

Yaa Allah, Yaa Rahman Yaa Rachim Yaa Ghaffur,

Hambamu yang bergelimang dosa ini datang bersimpuh dihadapan-MU dalam ketidakberdayaan .

Yaa Allah, hamba memohon ampunan, rahmat dan Ridha-MU, wahai Tuhan yang Maha Pengampun. Ampunilah dosa dan kesalahan kami Yaa Allah, yang nyata maupun kami sembunyikan, yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Ya Allah, hamba-MU yang dhaif ini mengetuk pintu maaf-MU Ya Rabb, Engkau telah Maha melihat dan mengetahui kesalahan dan kekeliruan yang hamba lakukan, namun Engkau tetap memberiku rezekimu kepada hamba, karena sifatmu yang Maha Penyayang, maka berilah hamba-MU ini ampunan, rahmat dan Ridha-MU.

Yaa Allah, hanya kepada-MU lah kami mengabdi dan hanya kepada-MU lah kami memohon pertolongan. Istiqamahkanlah kami dalam ketaatan kepada-MU ya Allah. Yaa Rabbul aalamin.

Diambil dari berbagai sumber, terutama buku : Kaifa Atubu, edisi Indonesia : tuntunan bertaubat, karya : Muhammad Hussein Ya’kub

Wallahu a’lam bish-shawab.

TIDAK MENGHARAPKAN MILIK ORANG LAIN

posted on 13 July 2010
Ini merupakan sikap yang dapat menumbuhkan rasa cinta orang lain dan
meningkatkan harga diri.. Adapun sikap mengharapkan milik orang lain akan
menyebabkan hilangnya harga diri.

Hal ini dikarenakan sudah merupakan watak alami manusia adalah menyukai orang
yang memberi sesuatu dan merendahkan orang yang mengambil sesuatu darinya (
apalagi mengambil dengan mencuri ) dikarenakan kecenderungan manusia dalam
mencintai harta.

Oleh karena itu agama menganjurkan kita agar tidak mengharapkan sesuatu dari
orang lain dan tidak menginginkan milik orang lain.

Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan
kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami
cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih
kekal. QS. Thaha (20:131)

Dari Abu Said Al-Khudri r.a., beberapa orang Anshar meminta sesuatu kepada
Rasulullah SAW, lalu memberikannya kepada mereka. Kemudian mereka meminta lagi
dan Rasulullah SAW memberikannya kepada mereka sampai habislah apa yang ada
pada beliau.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Apapun kebaikan yang ada padaku, aku tidak akan pernah menyimpannya dari
kalian. Barang siapa menahan diri ( dari mengharap sesuatu yang ada pada orang
lain ), Allah akan mencukupinya. Barang siapa kaya hati ( tidak merasa kurang
sehingga tidak mengharap bantuan orang lain ), maka Allah akan membuatnya kaya.
Barang siapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya orang sabar. Tidak ada
sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada
kesabaran ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dari Hakim ibn Hizam r.a., ” Aku meminta (sesuatu) kepada Rasulullah SAW , dan
beliau memberi. Aku meminta lagi, dan beliau memberi lagi. Aku meminta lagi, dan
beliau memberi lagi.

Kemudian beliau bersabda :
“Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya
dengan kedermawanan hati, maka akan diberkahi; barang siapa mengambilnya dengan
keserakahan, maka tidak akan diberkahi. (Jika tidak diberkahi, maka dia )
seperti orang yang makan, tapi tidak pernah kenyang. Tangan diatas ( memberi )
lebih baik dari tangan dibawah ( diberi ).” ( HR. Muslim ).

Lalu Hakim ibn Hizam berkata :” Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu
dengan kebenaran, aku tidak akan mengurangi milik orang lain sedikitpun, setelah
engkau, sampai aku meninggal dunia”.

Abu Bakar r.a. pernah menawari untuk diberi sesuatu, tapi dia menolak untuk
menerimanya, kemudian Umar juga hendak memberinya dan dia tetap menolak. Lalu
umar berkata ” Aku bersaksi kepada Kalian, wahai kaum Muslimin, bahwa Hakim ibn
Hizam, ketika aku tawarkan haknya dari harta rampasan perang, dia menolak untuk
menerimanya, dan Hakim tidak pernah mengurangi harta orang lain, setelah (
wafatnya ) Rasulullah, sampai dia meninggal dunia”. Subhanallah ..

Rasulullah SAW bersabda:
“Penduduk surga itu ada tiga : penguasa yang adil yang memberi derma yang tepat
, orang yang penyayang berhati lembut terhadap kerabatnya dan orang yang
menjauhkan diri dari meminta-minta pada orang lain.” ( HR. Muslim ).

“Orang kaya itu bukan orang yang banyak hartanya, tetapi yang kaya hati.” ( HR.
Bukhari dan Muslim ).

Maksudnya : Orang kaya itu bukan orang yang banyak memiliki harta, karena bisa
jadi orang yang banyak hartanya tapi tidak pernah merasa puas (selalu merasa
kurang, karena masih rakus) dan ini tidak dikatakan kaya. Tapi orang kaya adalah
orang yang merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya (kaya hati), dan dia
tidak pernah mengharap-harap apa yang ada ditangan orang lain.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamannya,. Seseorang membawa tali,
mengikat kayu bakar dan memanggulnya ( untuk mendapatkan rezeki ) itu lebih baik
daripada meminta-minta pada seseorang, baik diberi atau tidak .” ( HR. Bukhari
dan Muslim ).

Dari Abdullah ibn umar r.a., Rasulullah SAW bersabda:
” Orang yang sering meminta-minta pada manusia, akan dibangkitkan pada hari
kiamat dengan wajah tanpa daging.” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Adapun jika ada orang yang memberikan uang kepadamu tampa anda mengharapkannya
dan anda tidak bersikap rakus terhadap pemberian itu, dan anda yakin bahwa
sumber harta tersebut adalah halal, maka boleh saja anda menerimanya sebagian,
dan sebagian nya disedekahkan.

Hal ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Umar ibn Khatab r.a.,
“Rasulullah memberiku sesuatu, lalu aku katakan: ‘berikanlah kepada yang lebih
membutuhkan’. Beliau berkata:’ Ambillah, jika datang sedikit bantuan, dan engkau
tidak rakus dan engkau tidak meminta-minta, maka ambillah. Jangan bersikap rakus
terhadap bantuan itu.” ( HR. Bukhari dan Muslim ).

“Jika engkau diberi sesuatu tanpa meminta , maka makanlah dan sedekahkanlah
(selebihnya) .” ( HR. Muslim ).

Dan bila anda tahu (yakin) bahwa sumber harta tersebut adalah haram maka anda
harus menolaknya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh

PENTING NYA AKIDAH (renungan)

posted 20 Juli 2010

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(Q.S asy-Syu’araa’: 78-79)

‘Aqidah yang benar adalah perkara yang amat penting dan kewajiban yang paling besar yang harus diketahui oleh setiap Muslim dan Muslimah. Karena sesungguhnya sempurna dan tidaknya suatu amal, diterima atau tidaknya, bergantung kepada ‘aqidah yang benar. Kebahagiaan dunia dan akhirat hanya diperoleh oleh orang-orang yang berpegang pada ‘aqidah yang benar ini dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menafikan dan mengurangi kesempurnaan ‘aqidah tersebut.

‘Aqidah yang benar adalah ‘aqidah al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), ‘aqidah ath-Thaaifatul Manshuurah (golongan yang dimenangkan Allah), ‘aqidah Salaf, ‘aqidah Ahlul Hadist, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

AZAB DAN NIKMAT KUBUR (renungan)

poasted 20 Juli 2010

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu anha bahwa seorang perempuan Yahudi menemui ‘Aisyah, lalu dia menyebut adzab kubur, dan mengatakan kepadanya:

“Semoga Allah melindungimu dari adzab kubur.”

Selanjutnya

‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang adzab kubur yang dijawab beliau:

“Ya… adzab kubur itu benar adanya.”

‘Aisyah radhiallahu anha menyatakan:

“Sejak itu saya tidak melihat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mengerjakan suatu shalat melainkan beliau pasti meminta perlindungan dari adzab kubur.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits di atas dan masih banyak hadits lain yang shahih menunjukkan bahwa adzab kubur dan nikmatnya benar-benar ada.

Menghidupkan sunnah-sunnah yang terlupakan

posted 20 juli 2010

KEUTAMAAN MENGHIDUPKAN SUNNAH RASULULLAH

عن عمرو بن عوف بن زيد المزني t: أن رسول الله r قال: ((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً)) رواه ابن ماجه وهو صحيح لغيره.

Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah r, terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang. Oleh karena itu, imam Ibnu Majah mencantumkan hadits ini dalam kitab “Sunan Ibn Majah” pada bab: (keutamaan) orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah r yang telah ditinggalkan (manusia)[2].

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata: “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah r yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah ), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)”[3].

Faidah-faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Sunnah Rasulullah  adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau r[4], yang ditujukan sebagai syariat bagi umat Islam[5].

– Arti “menghidupkan sunnah Rasulullah ” adalah memahami petunjuk Beliau , mengamalkan dan menyebarkannya di kalangan manusia, serta menganjurkan orang lain untuk mengikutinya dan melarang dari menyelisihinya[6].

– Orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.

Syaikh Muhammad bih Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Sesungguhnya sunnah Rasulullah jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah dikalangan manusia”[7].

– Allah  memuji semua perbuatan Nabi  dan menamakannya sebagai “teladan yang baik”, dalam firman-Nya:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah Y[8].

– Ayat ini juga mengisyaratkan satu faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah r dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah r merupakan pertanda kesempurnaan imannya.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata: “Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah I) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah”[9].


[1] HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” (no. 173).

[2] Kitab “Sunan Ibnu Majah” (1/75).

[3] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/168).

[4] Lihat kitab “Taujiihun nazhar ila ushuulil atsar” (1/40).

[5] Lihat muqaddimah kitab “al-Haditsu hujjatun binafsihi fil ‘aqa-idi wal ahkaam” (hal. 13).

[6] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/9) dan “Syarhu sunan Ibni Majah” (hal. 19).

[7] Kitab “Manaasikul hajji wal ‘umrah” (hal. 92).

[8] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 481).

[9] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481).

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda:
“Barang siapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah dimatikan, sesudahku (sesudah aku meninggal dunia), maka bagi orang tersebut pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR. At-Tirmidzi).

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam wafat meninggalkan dua warisan yang berharga: al-Qur-an dan as-Sunnah. Orang yang berpegang teguh pada keduanya dipastikan tidak akan tersesat selamanya. Saat ini, tidak sedikit orang yang melupakan, bahkan mematikan sunnah beliau. Tidak hanya itu, mereka kemudian malah beralih pada tradisi dan adat istiadat yang justru tidak sesuai dengan syari‘at.

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR Ibnu Majah: 209)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: